Pages

Wednesday, November 9, 2011

Oh Manusia! Itu Ini Semua XBtol

Bila kita jadi jahat, ORANG BENCI... 
Bila jadi baik, ORANG MELUAT... 
Bila kita ikut suruhan agama, ada orang kata kita BERLAGAK ALIM... 
Bila kita langgar suruhan agama, ada orang kata "ASTAGHFIRULLAH.. APA LAA NAK JADI.. NAK KIAMAT KOT?..." 


Bila kita ikut peraturan, ada orang kata kita SKEMA... 
Bila kita langgar peraturan, ada orang kata kita ni macam TAKDE MASA DEPAN... Bila kita tegur dengan baik, ada orang kata kita ni BAJET BAGOS... 
Bila kita tegur dengan kasar, ada orang kata kita ni KURANG AJAR... 
Bila kita pakai sopan-sopan, ada orang kata kita ni 'KAMPONG GILERR'... 


Bila kita pakai 'dedah sana-sini'.. ada orang kata kita ni TAKDE HARGA DIRI sebab tayang free... 
Bila kita bagi nasihat, ada orang kata "JANGAN SIBUK JAGA TEPI KAIN ORANG, BOLEH?!....." 
Bila kita sindir-menyindir, ada orang kata "TAK RETI BAGI NASIHAT LEKLOK?.."... Bila kita tolong buat kerja, ada orang kata "YANG SEBOK SANGAT NAK TOLONG BUAT KEJE ORANG LAIN NI WATPE!?"... 
Bila kita tak tolong apa-apa, ada orang kata "APSAL PEMALAS SANGAT NI? NAK TOLONG PON SUSAH?".. 


Dan sebenarnya ramai orang lain tak berpuas hati dengan diri kita. Apa yang kita buat semua salah. Semuanya tak betul di mata mereka.. Kalau buat salah sudah tentunya salah, tetapi jika buat baik pun masih ada yang mengata.. ingat pesanan ini :- Keputusan yang kita ambil, langkah yang kita mula.. perkara pertama yang perlu kita fikirkan ialah pandangan Allah SWT terhadap kita.. bukan pandangan manusia..


Ingatlah Pesanan Lukman Al-Hakim kepada Anaknya..


dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Al-Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut daripada belakang. Melihat tingkahlaku Luqman itu, setengah orang pun berkata; 


“Lihat itu, orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki”. 


Setelah mendengar desas-desus daripada orang ramai, maka Luqman pun turun daripada himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di kawasan itu berkata pula; 


“Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu”. 


Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi; 


“Lihat itu, dua orang menaiki seekor himar, sungguh menyeksakan himar itu”.


Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun daripada himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata; 


“Lihat, dua orang yang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderaikan, membazir”. 


Dalam perjalanan ke rumah, Luqman Al-hakim telah menasihati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya; 
“Sesungguhnya tiada seorang pun terlepas daripada percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan pertimbangan Allah s.w.t sahaja (pandangan manusia yang baik boleh diambil). Barangsiapa mengenali kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap sesuatu”


Source:Ust Muka Buku

Tuesday, November 8, 2011

Spam!!!Dammit >.< !hahahah


Assalamualaikum, Good day to you,

Please accept my apology I am indeed glad to be in contact with you even though this medium of communication (internet) has been grossly abused by criminal minded people making it difficult for people with genuine transaction to correspond and exchange views without scepticism.

My name is Mahamadi Inoussa I am the director of Auditing and Accounting department of  BANQUE INTERNATIONALE POUR LE COMMERCE, L'INDUSTRIE ET L'AGRICULTURE DU BURKINA ( BICIAB INTERNATIONAL BANK BURKINA FASO ) please visit our bank website : www.biciabnet.net .

 I urgently need your  help to assist me  receive ($7,200.000.00 USD) in  your foreign  account overseas,  these fund belongs  to Saif al-Arab al-Gaddafi  the  sixth son of   late former Libyan  leader Muammar Gaddafi .  I am writing this email to you on behalf of Madam Safia Farkash al-Baraasi the second wife of late  former Libya leader Muammar Gaddafi and Please do not take this into consideration that having received this information by internet to be a fraudulent activity, this is totally genuine and legal and if you doubt I would suggest that you come down personally in our bank here in my country to find out the reality and truth about this fund I wrote to you about or you  can  visit website of  of  Safia Farkash al-Baraasi  the second wife of late  former  Libya leader Muammar Gaddafi  for your clear understanding http://www.alarabiya.net/articles/2011/03/06/140415.html

  However, following the current ongoing problem facing the late former Libyan leader, Madam Safia Farkash al-Baraasi  on behalf of her  son Saif al-Arab al-Gaddafi  who was killed by NATO Airstrike on  30th April 2011  has instructed me to look for a reliable foreigner to transfer this first  deposit ($7,200.000.00 USD)  out from our bank  here in Burkina Faso  to a  foreigner’s  account abroad.  kindly read the death story of Saif al-Arab al-Gaddafi  : http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13251570  

  Reply me urgently and let me know the percentage you would like to have for your assistance after smooth transfer of the fund into your bank account in your country and make sure you  reply me with  indication of your interest, i shall give you more details about the transfer once i receive your positive response.  Note; due to poor internet connectivity in my country you may receive this email in your SPAM folder, kindly forward this proposal into your INBOX folder before responding back to me.

Please make this proposal as a top secret  but if you are not interested please  delete my letter from your computer.

  Thank you and praise be to Allah   and Allah is with us.

With Best Regards.

Mr. Mahamadi  Inoussa

Monday, November 7, 2011

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Nabi saw pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?"

Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dibesarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu benar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya."

Lalu nabi s.a.w. bersabda: "Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam." 

Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian diteruskan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan bahangnya. Demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Qur'an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang lelaki dan perempuan."

Nabi s.a.w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?" 

Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman: iaitu yang lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s.a.w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?" 

Jawab Jibril:

"Pintu yang terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir'aun, namanya Al-Hawiyah.

Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,

Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.

Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,

Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.

Pintu ke enam tempat orang nashara bernama Sa'eir."

Kemudian Jibril diam, segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?" 

Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yang berdosa besar dari ummatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat."

Maka nabi s.a.w. jatuh pengsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sedar nabi saw bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?" 

Jawabnya: "Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu."

Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibril juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.

Tuesday, August 23, 2011

Awan Jatuh Menyembah Bumi


Assalamualaikum dan salam sejahtera semua..

Pernah tak korang bayangkan bahawa korang boleh pegang awan dengan tangan kosong tanpa perlu bersusah payah ke naik ke atas awan ? Mesti korang kata mustahil bukan ? Tapi inilah kekuasaan yang Allah ingin tunjukkan pada semua kaum manusia tentang kekuasaanNYA..


Video di bawah ini dipercayai dari Arab..Harap ini bukan video yang diedit..

 

" Sesungguhnya Tiada Yang Mustahil BagiNYA "

" Kun Fayakun "


wallahu 'alam...
source:Prince91

Monday, August 22, 2011

Suamiku Makan Darah Haid Dan Air Maniku


Seperti yang telah diceritakan oleh seorang ustaz. Saya just copy paste jer kat sini, untuk bacaan kita bersama – sebagai pengajaran dan tauladan bagi para isteri – dan secara tak langsung juga kepada para suami. Begini ceritanya…
Lama benar saya tidak berjumpa dengan Ariffin. Rasanya sudah lebih Tujuh tahun sejak kawan lama saya itu di arahkan mengajar di Johor. Kerana itulah, apabila dia datang ke pejabat saya pagi itu, saya Merasa terlalu seronok.

“Eh, makin kurus nampak. Diet ke?” kata saya setelah mempersilakannya Duduk.

“Tak adalah. biasa la cikgu, kan sekarang ni macam-macam kerja. Kurikulumlah, kokurikulumlah, sukanlah. badan gemuk pun boleh jadi Tinggal tulang,” balas Arifin.
“Tengok ni ustaz, baju pun dah menggelebeh. Seluar pun longgar,” Tambah Arifin sambil menarik lengan baju untuk menunjukkan betapa Kurusnya dia dan besarnya baju yang di pakai.
Selepas bertanya itu ini dan mengusiknya serba sedikit, saya bertanya Arifin tentang hajatnya datang menemui saya. Yalah, tiba-tiba saja Muncul, pasti ada hajat yang hendak di sampaikan.
“Orang rumah saya sakitlah, ustaz”, kata Arifin.
“Patutlah aku tengok engkau lain macam aja tadi. Ketawa pun hendak Tak hendak. Sakit apa?” saya bertanya. Agak lambat Arifin menjawab. Dia menarik nafas, kemudian meraup muka dan seterusnya bersandar di Kerusi. Setelah itu disorotnya mata saya dalam-dalam.
“Entahlah.” katanya perlahan,
” Lima tahun lalu tiba-tiba saja badan dia melepuh-lepuh. Di kaki, Paha, perut, dibelakang. penuh dengan lepuh macam orang terkena air Panas,”kata Arifin.
Tambah kawan lama saya itu, dia telah membawa isterinya, Niza, ke Serata hospital dan klinik, namun ubat yang di beri oleh doktor tidak Dapat melegakan penyakitnya.
“Sakit apa, doktor pun tak tau,”tambahnya.
“Dah pergi berubat kampung?”saya bertanya.
“Dah,tapi macam biasalah. bomoh, cakap kena buat orang, terceroboh Kawasan orang bunian., sampuk. macam-macam lagi. Duit banyak habis, Masa terbuang, tapi sakitnya tak juga sembuh,”jelas Arifin.
Malah, kata kawan saya itu, lepuh-lepuh menjadi bertambah banyak pula Hingga tubuh isterinya yang langsing menjadi sembab. Wajahnya yang Cantik juga berubah murung, kusut
“Itu masih tak mengapa ustaz. Yang menambahkan kebimbangan saya, Setelah beberapa lama, lepuh-lepuh itu bertukar pula jadi gerutu dan Berbintil-bintil macam katak puru,” tambah Arifin.
Akibatnya, sekali lagi Niza menderita kerana selepas tubuhnya hodoh Akibat sembab, seluruh kulitnya yang dulu licin menjadi jelik. Dari tangan, bintil-bintil kecil dan besar seperti bisul tumbuh merata, kaki hingga ke muka.
Disebabkan penyakit itu, kawan-kawan yang datang melawat terkejut kerana hampir tidak mengenalinya lagi. Akibatnya, Niza terpaksa berhenti kerja. Dia malu untuk berhadapan dengan kawan sepejabat.
Memang ada yang bersimpati tapi ada juga yang mengejek. Ramai yang menyindir di belakang, tapi ada juga yang tanpa rasa bersalah mengaibkannya secara berhadapan.
Dua tiga tahun berlalu, penyakit Niza bertambah parah. Sehelai demi sehelai rambutnya gugur hingga hampir botak. Rambut yang lembut mengurai menjadi jarang hingga menampakkan kulit kepala yang memutih. Keadaannya itu sangat menyedihkan kerana usia awal 30an, rambutnya seperti wanita berumur 90an. Seperti daun getah luruh di musim panas, semakin hari semakin banyak rambut Niza gugur. Dalam waktu yang sama, kuku tangan dan kakinya juga menjadi lebam. Daripada biru, ia bertukar kehitaman seperti di penuhi darah beku.
“Tiap hari, dia termenung. Dia mengeluh, kenapalah dia sakit macam ni. Kenapa dia, bukan orang lain? Apa salah dia? Kasian betul saya tengok,” kata Arifin. Wajahnya sayu
“Hidup kami pun jadi tak terurus macam dulu”.
Di sebabkan doktor tempatan gagal menyembuhkan penyakit Niza, Arifin membawa isterinya ke Singapura. Hampir sebulan mereka di sana dan banyak wang di habiskan namun pulang dengan hati kecewa. Doktor di negara itu juga tidak dapat mencari penawar keadaan penyakit berkenaan.
“Sekarang ni, keadaan isteri saya dah bertambah teruk. Bila malam saja dia meraung, meracau dan menangis-nangis. Jadi, saya harap ustaz dapatlah tolong serba sedikit sebab dah habis ikhtiar saya mengubatnya cara moden,”tambah Arifin.
“InsyaAllah.” Balas saya.
Tapi saya mula terasa pelik. Perasaan ingin tahu mula bercambah kerana berdasarkan pengalaman, kata-kata yang diluahkan semasa seseorang yang meracau dapat membantu kita merawatnya. Ini kerana semasa meracau itulah dia meluahkan segala yang terbuku di hati.
“Apa yang dia cakap masa meracau tu?”
“Macam-macam ustaz. tapi ada waktunya dia minta ampun maaf daripada saya. Saya tanya kenapa? . Dia tak cakap, Cuma minta maaf saja. Yalah. orang dah sakit memang macam tu,”kata Arifin.
Saya cuma mendiamkan diri. Mengiakan tidak, menggeleng pun tidak. Setelah berbincang lama, dia meminta diri . Sebelum pulang, saya berjanji untuk ke rumah Arifin pada malam esoknya.
“Datang ya, ustaz . Saya tunggu,”katanya sambil mengangkat punggung.
Dia kemudiannya melangkah lemah meninggalkan pejabat saya. Seperti yang dijanjikan, saya sampai ke rumahnya selepas isyak.
“Jemput masuk ustaz,”Arifin memperlawa sambil membawa saya ke sebuah bilik.
“Dia baring dalam bilik ni. Ustaz jangan terkejut pula tengok muka dia. Orang rumah saya ni sensitif sikit,” bisiknya sebelum kami masuk ke bilik berkenaan.
Sebaik pintu di buka, kelihatan seorang wanita berselimut paras dada terbaring mengiring mengadap ke dinding.
“Za. Ni Ustaz Nahrawi datang,”kata Arifin perlahan sambil memegang bahu isterinya. Dengan lemah, Niza menoleh. MasyaAllah memang keadaan Niza sangat menyedihkan . Wajahya penuh dengan bintil-bintil yang menggerutu. Matanya terperosok ke dalam manakala tulang pipi membojol seperti bongkah batu yang membayang dipermukaan tanah. Badannya pula kurus cengkung dan kepala separuh botak menandakan dia sudah lama menderita. Niza cuma tersenyum tawar memandang saya. Saya dekati dia dan selepas lima minit meneliti keadaannya, saya panggil Arifin ke sudut bilik.
Dengan suara separuh berbisik, saya bertanya;”Pin, saya nak tanya sikit, tapi sebelum tu minta maaflah kalau nanti awak tersinggung”.
“Tak adalah,ustaz. Tanyalah, saya tak kisah,” jawab Arifin.
“Err,. dari mana datangnya bau yang.” soal saya, tapi tak sanggup nak menghabiskannya. Bau yang saya maksudkan itu agak busuk.
“Ooo. mmm, dari alat sulit dia,”kata Arifin perlahan.
“Keluar lendir bercampur nanah.”
Saya tidak memanjangkan lagi topik itu kerana tidak mahu memalukanArifin dan isterinya. Lagi pun tidak manis untuk bertanya tentang hal- hal yang seperti itu.
Sebelum kami duduk semula di sisi Niza, saya memberitahu Arifin, kadangkala di timpa penyakit sebegini sengaja di turunkan balasan oleh Allah kerana ada melakukan dosa atau derhaka kepada ibu atau bapa. Lantas saya bertanya, adakah Niza sudah meminta ampun daripada ibu bapanya.
“Sudah ustaz. Dengan emak dan ayah nya saya pun sudah.”
“Kalau macam tu, baguslah,”kata saya.
Setelah merawat Niza dengan doa dan ayat yang dipetik dari al-Quran, saya meminta diri. Sebelum itu saya nasihatkan Arifin dan Niza serta keluarga mereka supaya bersabar dengan ujian Allah.
“Sama-samalah kita berdoa supaya dia sembuh,” kata saya sebelum meninggalkan rumah Arifin.
Sudah ketentuan Allah, rupa-rupanya keadaan Niza menjadi bertambah parah. Perkara ini saya ketahui apabila Arifin menghubungi saya beberapa minggu kemudian. Menurut kawan saya itu, isterinya kini kian teruk racaunya.
Memang benar. Bila saya menziarahnya petang itu, Niza kelihatan semakin tenat. Sekejap-sekejap dia meracau yang bukan-bukan. Malah saya pun tidak dikenalinya lagi.
Sebelum pulang saya menasihatkan Arifin supaya melakukan solat hajat memohon ke hadrat Ilahi supaya menyembuhkan isterinya. Nasihat saya itu dipatuhi namun beberapa hari kemudian Arifin menalifon lagi. Kali ini suaranya lebih sedih, seperti hendak menangis.
“Ustaz,”katanya,
“Sekarang barulah saya tau kenapa dia jadi macam tu”
“Kenapa?”pantas saya bertanya…
“Sejak dua tiga malam lepas, dia minta ampun daripada saya dan ceritakan segala-galanya”. Arifin menyambung ceritanya;
Malam itu saya terkejut sebab semasa meracau isteri saya minta ampun kerana telah mengenakan ilmu kotor kepada saya. Kata Niza, dia telah memasukkan darah haid dan air maninya ke dalam makanan saya.
Saya tanya “Kenapa?”
Dia jawab, supaya ikut kata-katanya dan tak cari perempuan lain.
“Tambah saya kesal, selepas itu dia meminta ampun pula kerana telah berlaku curang kepada saya. Kata Niza, dia lakukan perbuatan tu selepas saya ditundukkan dengan ilmu hitam.”
Saya tanya, masa bila awak buat? Dia jawab semasa ketiadaan saya, tidak kira lah semasa saya bertugas di luar daerah. Semasa keluar seorang diri, dia telah membuat hubungan sulit dengan beberapa lelaki.
“Niza sebutkan nama lelaki-lelaki itu, tapi saya tak kenal. Kata Niza, hubungan mereka bukan setakat kawan saja, malah sudah ke tahap zina. Kerana itu dia minta berbanyak-banyak ampun daripada saya.
Dia minta saya maafkan.”Saya tak sangka betul, ustaz. Madu yang saya beri, racun yang dibalasnya. Patutlah selama ini bila berdepan dengan dia saya jadi hilang pertimbangan. Saya jadi lemah, rasa diri saya kerdil, takut nak membantah. Sudahlah begitu, dia jadi perempuan.” Kata Arifin tanpa sanggup menghabiskan kata-katanya. Termenung saya mendengar ceritanya itu.
Tidak saya sangka Niza sanggup berkelakuan demikian kerana Arifin bukan orang sebarangan. Arifin berpelajaran agama dan setia kepada isterinya. Budi bahasa pun elok.
“Kalau sudah begitu bunyinya, saya rasa awak maafkanlah dia,”kata saya.
Selain itu saya mencadangkan kepada Arifin supaya merelakan isterinya pergi.
Kata saya, mungkin nyawa isterinya itu terlalu sukar meninggalkan jasad kerana dia mahukan keampunan daripada suaminya terlebih dahulu.”
Lagipun, dia sudah terlalu menderita, sampai badan tinggal tulang, kepala pun dah nak botak. Doktor pula sudah sahkan penyakit dia tidak dapat disembuhkan lagi. Jadi, pada pandangan saya, daripada dia terus azab menanggung seksaan sakaratulmaut, adalah lebih baik kalau awak relakan saja dia pergi.
Saya tau ia susah nak di buat, tapi keadaan memaksa.”
“Ampunkan dia?” Arifin bertanya balik.
“Dia dah derhaka dengan saya, buat tak senonoh dengan lelaki lain, kenakan ilmu sihir kepada saya, ustaz mau saya maafkan dia?”tingkah Arifin dengan suara yang agak keras.
Mungkin dia terkejut.
“Ya. dia pergi dengan aman dan awak pula dapat pahala,” jelas saya. Saya terus memujuknya supaya beralah demi kebaikan isterinya. Saya katakan, yang lepas itu lepaslah. Lagi pun Niza sudah mengaku dosanya, jadi adalah lebih baik Arifin memaafkannya. Mungkin dengan cara itu Niza akan insaf dan meninggal dengan mudah.
“Takkan awak nak biarkan dia menderita? Awak nak pukul dia? Maki dia? Tak ada gunanya. Maafkan saja dia dengan hati yang benar-benar ikhlas,” jelas saya.
Setelah puas memujuk, akhirnya Arifin mengalah juga. Lalu saya nasihatkan supaya dia bacakan surah Yasin tiga kali dan ulangkan ibu Yasin (salaamun qaulam mirrabir rahim) sebanyak tujuh kali.
“Buat malam ni juga. Lepas itu tunaikan solat,” kata saya. Seminggu kemudian Arifin menelefon saya. Dengan sedih beliau memaklumkan isterinya sudah meninggal dunia. Tambah kawan saya itu, Niza pergi tanpa sesiapa sedari kerana ketika itu dia sedang menunaikan solat Isyak. Bila kembali, dia lihat isterinya tidak bernyawa lagi.
“Tapi Alhamd ulil lah, sebelum pergi dia sempat minta ampun daripada saya sekali lagi kerana menderhaka. Marah, memang marah, tapi bila dia pegang tangan saya sambil menangis dan kemudian minta ampun, tidak sanggup juga rasanya untuk membiarkan dia pergi dalam keadaan tanpa kemaafan daripada saya. Ustaz, saya dah ampunkan dia.
“Namun demikian, kata Arifin, lendir dan nanah busuk masih lagi mengalir daripada alat kelamin Allahyarham isterinya itu sehinggalah mayatnya dikebumikan.
Kepada wanita, kutiplah pengajaran dari cerita ini. Kepada lelaki, hati-hatilah dalam memilih isteri, jangan pandang hanya pada rupa.


P/s>>nauzubillahi min zaalik....
Source:Prince91

Friday, August 19, 2011

Kisah Rasulullah SAW dan Buah Limau

"Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya. Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum. 

Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Sahabat-sahabat agak hairan dengan sikap Rasulullah SAW itu. 

Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan "Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyetkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab tu saya habiskan semuanya." 

Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya di'tewas'kan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.

Kita hendaklah menghargai pemberian orang lain walaupun pemberian tersebut bukan kesukaan kita. Ucaplah terima kasih dan terimalah dengan hati yang ikhlas dan terbuka kerana setiap pemberian adalah rezeki daripada Allah.